Selasa, 02 Juli 2019

Kata Salaf Secara Bahasa

Kata Salaf Secara Bahasa
Salaf secara bahasa artinya orang yang terdahulu, baik dari sisi ilmu, keimanan, keutamaan atau jasa kebaikan. Seorang pakar bahasa Arab Ibnu Manzhur mengatakan, “Kata salaf juga berarti orang yang mendahului kamu, yaitu nenek moyangmu, sanak kerabatmu yang berada di atasmu dari sisi umur dan keutamaan. Oleh karenanya maka generasi awal yang mengikuti para sahabat disebut dengan salafush shalih (pendahulu yang baik).” (Lisanul ‘Arab, 9/159, dinukil dari Limadza, hal. 30). Makna semacam ini serupa dengan kata salaf yang terdapat di dalam ayat Allah yang artinya, “Maka tatkala mereka membuat Kami murka, Kami menghukum mereka lalu Kami tenggelamkan mereka semuanya di laut dan Kami jadikan mereka sebagai salaf (pelajaran) dan contoh bagi orang-orang kemudian.” (QS. Az Zukhruf: 55-56). Artinya adalah: Kami menjadikan mereka sebagai pelajaran pendahulu bagi orang yang melakukan perbuatan sebagaimana perbuatan mereka supaya orang sesudah mereka mau mengambil pelajaran dan mengambil nasihat darinya. (lihat Al Wajiz fi ‘Aqidati Salafish Shalih, hal. 20).

Dengan demikian kita bisa serupakan makna kata salaf ini dengan istilah nenek moyang dan leluhur dalam bahasa kita. Dalam kamus Islam kata ini bukan barang baru. Akan tetapi pada jaman Nabi kata ini sudah dikenal. Seperti terdapat dalam sebuah sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada puterinya Fathimah radhiyallahu ‘anha. Beliau bersabda, “Sesungguhnya sebaik-baik salafmu adalah aku.” (HR. Muslim). Artinya sebaik-baik pendahulu. (lihat Limadza, hal. 30, baca juga Syarah ‘Aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah karya Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas hafizhahullah, hal. 7). Oleh sebab itu secara bahasa, semua orang terdahulu adalah salaf. Baik yang jahat seperti Fir’aun, Qarun, Abu Jahal maupun yang baik seperti Nabi-Nabi, para syuhada dan orang-orang shalih dari kalangan sahabat, dll. Adapun yang akan kita bicarakan sekarang bukanlah makna bahasanya, akan tetapi makna istilah. Hal ini supaya jelas bagi kita semuanya dan tidak muncul komentar, “Lho kalau begitu JIL juga salafi dong..! Mereka kan juga punya pendahulu”. Maaf, Mas… bukan itu yang kami maksudkan…

Kemudian apabila muncul pertanyaan “Kenapa harus disebutkan pengertian secara bahasa apabila ternyata pengertian istilahnya menyelisihi pengertian bahasanya?”. Maka kami akan menjawabnya sebagaimana jawaban Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah. Beliau mengatakan, “Faidahnya adalah supaya kita mengetahui keterkaitan makna antara objek penamaan syari’at dan objek penamaan lughawi (menurut bahasa). Sehingga akan tampak jelas bagi kita bahwasanya istilah-istilah syari’at tidaklah melenceng secara total dari sumber pemaknaan bahasanya. Bahkan sebenarnya ada keterkaitan satu sama lain. Oleh sebab itulah anda jumpai para fuqaha’ (ahli fikih atau ahli agama) rahimahumullah setiap kali hendak mendefinisikan sesuatu maka mereka pun menjelaskan bahwa pengertiannya secara etimologi (bahasa) adalah demikian sedangkan secara terminologi (istilah) adalah demikian; hal ini diperlukan supaya tampak jelas bagimu adanya keterkaitan antara makna lughawi dengan makna ishthilahi.” (lihat Syarh Ushul min Ilmil Ushul, hal. 38).

Pemahaman yang Benar dan Niat Baik


Pemahaman yang Benar dan Niat Baik
Pada awal risalah ini kami ingin menukilkan sebuah perkataan berharga dari Imam Ibnul Qayyim demi mengingatkan kaum muslimin sekalian agar menjaga diri dari dua bahaya besar, yaitu kesalah pahaman dan niat yang buruk. Imam Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan, “Pemahaman yang benar dan niat yang baik adalah termasuk nikmat paling agung yang dikaruniakan Allah kepada hamba-Nya. Bahkan tidaklah seorang hamba mendapatkan pemberian yang lebih utama dan lebih agung setelah nikmat Islam daripada memperoleh kedua nikmat ini. Bahkan kedua hal ini adalah pilar tegaknya agama Islam, dan Islam tegak di atas pondasi keduanya. Dengan dua nikmat inilah hamba bisa menyelamatkan dirinya dari terjebak di jalan orang yang dimurkai (al maghdhuubi ‘alaihim) yaitu orang yang memiliki niat yang rusak. Dan juga dengan keduanya ia selamat dari jebakan jalan orang sesat (adh dhaalliin) yaitu orang-orang yang pemahamannya rusak. Sehingga dengan itulah dia akan termasuk orang yang meniti jalan orang yang diberi nikmat (an’amta ‘alaihim) yaitu orang-orang yang memiliki pemahaman dan niat yang baik. Mereka itulah pengikut shirathal mustaqim…” (I’laamul Muwaqqi’iin, 1/87, dinukil dari Min Washaaya Salaf, hal. 44).

Oleh sebab itu di sini kami katakan: Hendaknya kita semua berusaha seoptimal mungkin untuk memahami persoalan yang kita hadapi ini sebaik-baiknya dengan dilandasi niat yang baik yaitu untuk mencari kebenaran dan kemudian mengikutinya. Hal ini sangatlah penting. Karena tidak sedikit kita saksikan orang-orang yang memiliki niat yang baik namun karena kurang bisa mencermati hakikat suatu permasalahan akhirnya dia terjatuh dalam kekeliruan, sungguh betapa banyak orang semacam ini… Di sisi lain adapula orang-orang yang apabila kita lihat dari sisi taraf pendidikan atau gelar akademis yang sudah didapatkannya (meskipun itu bukan menjadi parameter pemahaman) adalah termasuk golongan orang yang ‘mengerti’, namun amat disayangkan ilmu yang diperolehnya tidak melahirkan ketundukan terhadap manhaj salaf yang haq ini. Sehingga kita temui adanya sebagian da’i yang lebih memilih manhaj/metode selain manhaj salaf, padahal ia termasuk lulusan Universitas Islam Madinah Saudi Arabia (Ini sekaligus mengingatkan bahwa tempat sekolah seseorang bukanlah ukuran kebenaran). Bahkan ada di antara mereka yang berhasil mendapatkan predikat cum laude di sana, namun tatkala pulang ke Indonesia, kembalilah dia ke pangkuan hizbiyyah (kepartaian) dan larut dalam kancah politik ala Yahudi, ikut berebut kursi dan memperbanyak jumlah acungan jari… Wallahul musta’aan. Semoga Allah mengembalikan mereka kepada kebenaran.

Marilah kita ingat sebuah ayat yang sangat indah yang akan menunjukkan jalan untuk memecahkan segala macam masalah. Allah ta’ala berfirman yang artinya, “Wahai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul serta Ulul amri di antara kalian. Kemudian apabila kalian berselisih tentang suatu urusan maka kembalikanlah pemecahannya kepada Allah dan Rasul, jika kalian benar-benar beriman kepada Allah dan hari akhir. Yang demikian itu pasti lebih baik bagi kalian dan lebih bagus hasilnya.” (QS. An Nisaa’: 59).

Imam Ibnu Katsir menyebutkan bahwa yang dimaksud ulul amri adalah mencakup umara’ (penguasa/pemerintah) dan juga ulama (ahli ilmu agama). Beliau juga menjelaskan bahwa makna taatilah Allah artinya ikutilah Kitab-Nya (Al Qur’an). Sedangkan makna taatilah Rasul adalah ambillah ajaran (Sunnah) beliau. Adapun makna ketaatan kepada ulul amri adalah dalam rangka ketaatan kepada Allah bukan dalam hal maksiat. Karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda dalam hadits yang shahih, “Sesungguhnya ketaatan itu hanya boleh dalam perkara ma’ruf (bukan kemungkaran).” (HR. Bukhari dan Muslim). Kemudian apabila kalian berselisih dalam suatu perkara maka kembalikanlah kepada Allah dan Rasul. Kalimat tersebut maknanya adalah kembali merujuk kepada Kitabullah dan sunnah Rasul-Nya, demikianlah tafsiran Mujahid dan para ulama salaf yang lain.

Kemudian Imam Ibnu Katsir berkata, “Ini merupakan perintah dari Allah ‘azza wa jalla bahwa segala sesuatu yang diperselisihkan oleh manusia yang berkaitan dengan permasalahan pokok-pokok agama maupun cabang-cabangnya hendaknya perselisihan tentang hal itu harus dikembalikan kepada Al Kitab dan As Sunnah. Ini sebagaimana firman Allah ta’ala (yang artinya), “Dan apa saja yang kalian perselisihkan maka keputusannya kembali kepada Allah.” (QS. Asy Syuura: 10). Maka segala keputusan yang diambil oleh Al Kitab dan As Sunnah serta dipersaksikan keabsahannya oleh keduanya itulah al haq (kebenaran). Dan tidak ada sesudah kebenaran melainkan kesesatan…” (lihat Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, II/250).

Sabtu, 06 April 2019

Kemegahan Mesjid Istiqalal



Masjid Istiqalal salah satu masjid terbesar dan termegah di Asia Tenggara, tempat yang awalnya sebagai tempat ibadah bagi umat islam pada zaman dahulu, kini tempat tersebut berubah selain sebagai tempat ibadah juga sebagai tempat wisata. Selain ada masyarakat Indonesia yang sering berkunjung ke sana, ada juga sebagian masyarakat asing yang ingin tau tentang Mesjid Istiqalal.

Biasanya ada pengelola Masjid yang memandu masyarang asing untuk memberitukan sejarah, arsitektur, dan tulisan kaligrafi yang ada di dalam Masjid. Masyarakat yang berdatangan setiap hari sangatlah banyak, dari anak – anak hingga orang tua, yang berkunjung pun tidak dari masyarakat Jakarta, ada juga yang dari luar Jakarta, misalnya dari Bandung, Surabaya, dan Malang.

Pada hari tertentu Masjid sering mengadakan kajian – kajian mengenai Ilmu Agama Islam, pada hari itu biasanya masyarakat berkumpul bagaikan semut berdatangan hanya untuk mengambil Ilmu yang di sampaikan dari ustaz yang berceramah.


Untuk masalah transportasi ada yang mengendari motor, mobil, dan kereta api, dari ke tiga transportasi kebanyakan lebih memilih kereta api, tapi setiap transportasi ada kedala, misalnya motor dan mobil akan kejebak macet sedangkan kereta api sering lama menunggu kedatangan kereta dan juga sering berdempetan, untuk naik kereta biasanya turun di Stasiun Juanda.

Di sekitar Masjid pun ada juga tempat yang bisa di kunjungi, seperti Gereja Katedral tepat di depan Masjid. Gereja tersebut sengaja di bangun demi masyarakat pada zaman dahulu di era Presiden Ir Soekarno dengan alasan menjaga kerukunan antar umat Islam dengan Keristen. Selain Gereja ada Monumen Nasional atau yang di kenal MONAS. MONAS pun salah satu tempat favorit untuk di singgahi berwisata di Jakarta.


Catata penulis
Boleh – boleh aja Masjid di jadikan tempet wisata akan tetapi harus tau fungsi Masjid yang sebenarnya yaitu untuk beribadah kepada Allah.

Kamis, 28 Maret 2019

Perjalanan Isra' dan Mi'raj Rasulullah ﷺ


Manakala Rasulullah masih berada di tengah periode di mana dakwahnya menerobos jalan antara kesuksesan dan penindasan, sementara secercah harapan mulai tampak dari kejauhan, maka terjadilah peristiwa Isra’ dan Mi’raj.

Ibnu Qayyim berkata,’Menerut riwayat yang shahih bahwa Rasulullah ﷺ di isra’ kan dengan jasadnya dari Masjid Haram menuju Baitul Maqdis dengan mengendarai al-Buraq, di temani oleh Jibril. Lalu beliau singgah di sana dan shalat bersama para nabi sebagai imam.

Kemudian di malam itu, beliau di mi’rajkan dari Baitul Maqdis ke langit dunia. Jibril minta izin agar di bukakan pintu langit bagi beliau lalu terbukalah pintunya. Di setiap tingkatan langit beliau bertemu dengan para nabi,di langit pertama bertemu dangan Nabi Adam, di langit ke dua bertemu dengan Nabi Yahyah bin Zakaria dan Isa bin Maryam, di langit ke tiga bertemu dengan Nabi Yusuf, di langit ke empat bertemu dengan Nabi Idris, di langit ke lima bertemu Nabi Harun, di langit ke enam bertemu Nabi Musa, dan di langit ke tujuh bertemu dangan Nabi Ibrahim. Kemudian beliau naik ke Sidratul Muntaha, lalu al Bait al Ma’mur di naikkan untuknya.

Kemudian beliau di mi’rajkan lagi menuju Allah Yang Maha Agung lagi Maha Perkasa. Beliau mendekat kepadanya hingga hampir sejarak dua buah busur. Kemudia Allah mewahyukan kepada beliau kewajiban 50 waktu shalat, lalu beliau bertemu dengan Nabi Musa.

Ketika bertemu dengan Nabi Musa terjadilah percakapan mengenai kewajiban 50 waktu shalat, Nabi Musa berpendapat bahwa Rasulullah ﷺ tidak akan mampu melakukan kewajibannya dan meminta kepada Allah untuk mengurangi waktu shalat, lalu Nabi Muhammad menoleh ke arah Jibril untuk meminta pendapatnya, Jibril pun meng-iyakanya.

Kemudian Rasulullah mondar – mandir dari Nabi Musa dengan Allah sampai di kurangi menjadi 5 waktu shalat wajib. Ketika Nabi Muhammd bertemu dengan Nabi Musa untuk terakhir kalinya, Nabi Musa berkata “ Mintalah keringanan untuk umatmu” lalu Nabi Muhammad menjawab “ sungguh aku malu kepada Rabbku, aku rela dengan hal ini dan menerimanya”, setelah beliau menjauh terdengerlah suara menyeru “ aku telah memperlakukan fardhuku dan telah memberikan keringanan kepada para hambaku”.

Pada pagi harinya, tatkala Rasulullah ﷺ sudah berada di tengah kaumnya, beliau memberitahukan kepada mereka perihal tanda – tanda kebesara Allah Yang Agung yang telah diperlihatkan kepadanya. Akan tetapi kaumnya tidak serta merta menerima yang di sampaikan dari beliau, sehigga Allah menolong Rasulullah dengan memperlihatkan gambaran perjalan Isra’ Mi’raj dari gambaran ciri – ciri Baitul Maqdis, perihal rombongan niaga ketika beliau masih dalam perjalanan pergi dan kembali darinya, dan bahkan memberitukan bahwa ada segerombolan unta yang mendahului rombongan tersebut.

Dari semua yang di katakan Rasulullah, dari kebanyakan mereka perpaling dan tidak percaya dengan perkataan beliau, hanya Abu Bakar yang membenarkan perkataan beliau manakala orang – orang mendustakannya.

Kamis, 14 Maret 2019

Kematian Tragis Dari Pasukan Abrahah ash-Shabbah al-Habasyi


                Ketika Abrahah ash-Shabbah al – Habasyi, wakil umum an Najasyi atas negeri Yaman melihat orang – orang Arab melakukan haji ke Ka’bah, dia membangun geraja yang amat megah di kota Shan’a. Agar orang – orang Arab mengalihlakan haji ke sana. Niat ini di denger oleh seorang yang berasal dari Bani Kinanah, dia secara diam-diam mengendap-edap pada malam hari dan menerobos masuk ke gereja tersebut, lalu melumuri kiblat mereka dengan kotoran. Ketika Abrahah mengetahuinya maka sertamerta dia mengerahkan pasukan besar yang kekuatannya sebanyak 60.000 personil menuju Ka’bah untuk membalasnya. Dia meneruskan perjalanannya hingga sampai di suatu tempat bernama al-Mughammas, di tempat itulah meraka bersiap – siap untuk menyerang Ka’bah. Akan tetapi ketika mereka sampai di Lembah Mahsir, tiba – tiba gajahnya berhenti dan duduk. Gajahnya tidak mau bergerak ke arah Ka’bah tetapi bila di arahkan ke timur,selatan,utara. Ia mau maju dan berlari kecil.

                Manakala mereka mengalami kondisi seperti itu, Allah ﷺ mengirimkan mereka burung – burung yang berbondong – bondong sembari menjatuhkan batu yang terbuat dari tanah yang terbakar. Lalu Allah ﷺ menjadikan mereka seperti denaunan yang di makan ulat. Lemparan baru tersubut mengenai mereka sehingga badannya hancur berkeping – keping dan binasa.Sedangkan Abrahah sendiri, Allah ﷺ mengirimkan kepadannya suatu penyakit di sendi jari – jari tangannya dan berjatuhan satu per satu. Sebelum sampai ke Shan’a, dia dadanya terbelah hingga jantungnya terlihat, untuk kemudian dia roboh tak bernyawa.

            Peristiwa tragis ini tersebar ke seluruh penjuru dunia yang ketika itu sudah maju, seperti pesia dan romawi yang merupakan negara maju dan berperadapan. Peristiwa tersebut juga mengundang perhatian dunia dan memberikan isyarat kepada mereka akan kemulian Baitullah. Jadi, bila adanya yang menyampaikan risalah ke nabian, maka hal inilah tujuan utama dari terjadinya peristiwa tersebut dan penjelasan hikmah terselubung di balik pertolongan Allah ﷺ terhadap kaum musyrikin melawan kaum mukminin dengan cara yang melampaui ukuran yang ada pada dunia bernuansa kausalitas.

Rabu, 13 Maret 2019

Kelahiran Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wasallam



Rasulullah di lahirkan di tengah kabilah besar, Bani Hasyim di kota Makkah pada hari senin, tanggal 9 Rabi’ul Awwal pada tahun tragedi pasukan bergajah.

Ibnu Sa’ad meriwayatkan bahwa ibunda Rasulullah pernah menceritakan,”Ketika aku melahirkannya,dari farajku, keluarlah cahaya yang karenanya istana – istana negeri Syam tersinari.” Dan juga telah terjadi irhashat ketika beliau, di antaranya; jatuhnya empat belas beranda istana kekaisaran Persia,padamnya api yang biasa di sembah oleh kaum Majusi dan robohnya gereja – gereja di sekitar danau Sawah setelah airnya menyusut.

Setelah beliau dilahirkan, ibundanya mengirim utusan ke kakeknya, Abdul Muthtalib untuk memberitahukan kepadanya berita gembira cucunya tesebut. Kakeknya langsung datang dengan suka cita dan memboyong cucunya tersebut masuk ke dalam Ka’bah untuk berdoa kepada Allah azza wa jalla dan bersyukur kepadanya. Kemudian memberikan nama Muhammad,dan pada hari ketujuh kakeknya mengkhitan beliau sebagaimana tradisi yang berlaku di kalangan bangsa Arab
.
Tradisi yang berlaku dikalangan bangsa Arab yang tinggal di kota adalah mencari wanita yang dapat menyusui bayi – bayi mereka sebagai tindakan preventif terhadap tersebarnya penyakit – penyakit kota pada masa itu,serta beranggapan agar tubuh bayi- bayi meraka kuat, berotot kekar dan mahir berbahasa Arab sejak kanak- kanak. 

Wanita pertama yang menyusui beliau setelah ibundanya adalah Tsuwaibah.Dia merupakan budak wanita Abu Lahab yang saat itu juga menyusui anaknya bernama Masruh.Sebelumnya, dia juga pernah menyusui Hamzah bin Abdul Muththalib dan Abu Salamah bin Abdul Asad al- Makhzumi setelah menyusui beliau.