Kamis, 28 Maret 2019

Perjalanan Isra' dan Mi'raj Rasulullah ﷺ


Manakala Rasulullah masih berada di tengah periode di mana dakwahnya menerobos jalan antara kesuksesan dan penindasan, sementara secercah harapan mulai tampak dari kejauhan, maka terjadilah peristiwa Isra’ dan Mi’raj.

Ibnu Qayyim berkata,’Menerut riwayat yang shahih bahwa Rasulullah ﷺ di isra’ kan dengan jasadnya dari Masjid Haram menuju Baitul Maqdis dengan mengendarai al-Buraq, di temani oleh Jibril. Lalu beliau singgah di sana dan shalat bersama para nabi sebagai imam.

Kemudian di malam itu, beliau di mi’rajkan dari Baitul Maqdis ke langit dunia. Jibril minta izin agar di bukakan pintu langit bagi beliau lalu terbukalah pintunya. Di setiap tingkatan langit beliau bertemu dengan para nabi,di langit pertama bertemu dangan Nabi Adam, di langit ke dua bertemu dengan Nabi Yahyah bin Zakaria dan Isa bin Maryam, di langit ke tiga bertemu dengan Nabi Yusuf, di langit ke empat bertemu dengan Nabi Idris, di langit ke lima bertemu Nabi Harun, di langit ke enam bertemu Nabi Musa, dan di langit ke tujuh bertemu dangan Nabi Ibrahim. Kemudian beliau naik ke Sidratul Muntaha, lalu al Bait al Ma’mur di naikkan untuknya.

Kemudian beliau di mi’rajkan lagi menuju Allah Yang Maha Agung lagi Maha Perkasa. Beliau mendekat kepadanya hingga hampir sejarak dua buah busur. Kemudia Allah mewahyukan kepada beliau kewajiban 50 waktu shalat, lalu beliau bertemu dengan Nabi Musa.

Ketika bertemu dengan Nabi Musa terjadilah percakapan mengenai kewajiban 50 waktu shalat, Nabi Musa berpendapat bahwa Rasulullah ﷺ tidak akan mampu melakukan kewajibannya dan meminta kepada Allah untuk mengurangi waktu shalat, lalu Nabi Muhammad menoleh ke arah Jibril untuk meminta pendapatnya, Jibril pun meng-iyakanya.

Kemudian Rasulullah mondar – mandir dari Nabi Musa dengan Allah sampai di kurangi menjadi 5 waktu shalat wajib. Ketika Nabi Muhammd bertemu dengan Nabi Musa untuk terakhir kalinya, Nabi Musa berkata “ Mintalah keringanan untuk umatmu” lalu Nabi Muhammad menjawab “ sungguh aku malu kepada Rabbku, aku rela dengan hal ini dan menerimanya”, setelah beliau menjauh terdengerlah suara menyeru “ aku telah memperlakukan fardhuku dan telah memberikan keringanan kepada para hambaku”.

Pada pagi harinya, tatkala Rasulullah ﷺ sudah berada di tengah kaumnya, beliau memberitahukan kepada mereka perihal tanda – tanda kebesara Allah Yang Agung yang telah diperlihatkan kepadanya. Akan tetapi kaumnya tidak serta merta menerima yang di sampaikan dari beliau, sehigga Allah menolong Rasulullah dengan memperlihatkan gambaran perjalan Isra’ Mi’raj dari gambaran ciri – ciri Baitul Maqdis, perihal rombongan niaga ketika beliau masih dalam perjalanan pergi dan kembali darinya, dan bahkan memberitukan bahwa ada segerombolan unta yang mendahului rombongan tersebut.

Dari semua yang di katakan Rasulullah, dari kebanyakan mereka perpaling dan tidak percaya dengan perkataan beliau, hanya Abu Bakar yang membenarkan perkataan beliau manakala orang – orang mendustakannya.

Kamis, 14 Maret 2019

Kematian Tragis Dari Pasukan Abrahah ash-Shabbah al-Habasyi


                Ketika Abrahah ash-Shabbah al – Habasyi, wakil umum an Najasyi atas negeri Yaman melihat orang – orang Arab melakukan haji ke Ka’bah, dia membangun geraja yang amat megah di kota Shan’a. Agar orang – orang Arab mengalihlakan haji ke sana. Niat ini di denger oleh seorang yang berasal dari Bani Kinanah, dia secara diam-diam mengendap-edap pada malam hari dan menerobos masuk ke gereja tersebut, lalu melumuri kiblat mereka dengan kotoran. Ketika Abrahah mengetahuinya maka sertamerta dia mengerahkan pasukan besar yang kekuatannya sebanyak 60.000 personil menuju Ka’bah untuk membalasnya. Dia meneruskan perjalanannya hingga sampai di suatu tempat bernama al-Mughammas, di tempat itulah meraka bersiap – siap untuk menyerang Ka’bah. Akan tetapi ketika mereka sampai di Lembah Mahsir, tiba – tiba gajahnya berhenti dan duduk. Gajahnya tidak mau bergerak ke arah Ka’bah tetapi bila di arahkan ke timur,selatan,utara. Ia mau maju dan berlari kecil.

                Manakala mereka mengalami kondisi seperti itu, Allah ﷺ mengirimkan mereka burung – burung yang berbondong – bondong sembari menjatuhkan batu yang terbuat dari tanah yang terbakar. Lalu Allah ﷺ menjadikan mereka seperti denaunan yang di makan ulat. Lemparan baru tersubut mengenai mereka sehingga badannya hancur berkeping – keping dan binasa.Sedangkan Abrahah sendiri, Allah ﷺ mengirimkan kepadannya suatu penyakit di sendi jari – jari tangannya dan berjatuhan satu per satu. Sebelum sampai ke Shan’a, dia dadanya terbelah hingga jantungnya terlihat, untuk kemudian dia roboh tak bernyawa.

            Peristiwa tragis ini tersebar ke seluruh penjuru dunia yang ketika itu sudah maju, seperti pesia dan romawi yang merupakan negara maju dan berperadapan. Peristiwa tersebut juga mengundang perhatian dunia dan memberikan isyarat kepada mereka akan kemulian Baitullah. Jadi, bila adanya yang menyampaikan risalah ke nabian, maka hal inilah tujuan utama dari terjadinya peristiwa tersebut dan penjelasan hikmah terselubung di balik pertolongan Allah ﷺ terhadap kaum musyrikin melawan kaum mukminin dengan cara yang melampaui ukuran yang ada pada dunia bernuansa kausalitas.

Rabu, 13 Maret 2019

Kelahiran Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wasallam



Rasulullah di lahirkan di tengah kabilah besar, Bani Hasyim di kota Makkah pada hari senin, tanggal 9 Rabi’ul Awwal pada tahun tragedi pasukan bergajah.

Ibnu Sa’ad meriwayatkan bahwa ibunda Rasulullah pernah menceritakan,”Ketika aku melahirkannya,dari farajku, keluarlah cahaya yang karenanya istana – istana negeri Syam tersinari.” Dan juga telah terjadi irhashat ketika beliau, di antaranya; jatuhnya empat belas beranda istana kekaisaran Persia,padamnya api yang biasa di sembah oleh kaum Majusi dan robohnya gereja – gereja di sekitar danau Sawah setelah airnya menyusut.

Setelah beliau dilahirkan, ibundanya mengirim utusan ke kakeknya, Abdul Muthtalib untuk memberitahukan kepadanya berita gembira cucunya tesebut. Kakeknya langsung datang dengan suka cita dan memboyong cucunya tersebut masuk ke dalam Ka’bah untuk berdoa kepada Allah azza wa jalla dan bersyukur kepadanya. Kemudian memberikan nama Muhammad,dan pada hari ketujuh kakeknya mengkhitan beliau sebagaimana tradisi yang berlaku di kalangan bangsa Arab
.
Tradisi yang berlaku dikalangan bangsa Arab yang tinggal di kota adalah mencari wanita yang dapat menyusui bayi – bayi mereka sebagai tindakan preventif terhadap tersebarnya penyakit – penyakit kota pada masa itu,serta beranggapan agar tubuh bayi- bayi meraka kuat, berotot kekar dan mahir berbahasa Arab sejak kanak- kanak. 

Wanita pertama yang menyusui beliau setelah ibundanya adalah Tsuwaibah.Dia merupakan budak wanita Abu Lahab yang saat itu juga menyusui anaknya bernama Masruh.Sebelumnya, dia juga pernah menyusui Hamzah bin Abdul Muththalib dan Abu Salamah bin Abdul Asad al- Makhzumi setelah menyusui beliau.